Beranda Nasional Menuju di Penghujung Akhir Tahun, Misteri di Balik Angka 6666

Menuju di Penghujung Akhir Tahun, Misteri di Balik Angka 6666

0
Menuju di Penghujung Akhir Tahun, Misteri di Balik Angka 6666

Sorotbangsanews.com – Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki di penghujung pergantian akhir tahun 2020, detik demi detik pun tak terasa bahwa kita akan memasuki di awal pergantian tahun 2021.

Tetapi rasanya seperti ada angka misteri dibalik pergantian tahun 2021, mengapa sepertinya dengan problema di negeri yang kita cintai ini rasanya ada sesuatu indikasi hal yang diduga misteri.

Seperti halnya berkebetulan atau tidaknya kita pun tak tau perihal misteri di angka 6666.

Sedangkan hal tersebut sepertinya tepat dengan angka 6666.

Contoh sebagai berikut:

1. Imam na ditewak
2. Laskar na ditembak
3. Ormas na disepak
4. Pasantren na didepak
5. Markaz na diacak-acak
6. Pendukung na dikekeak

6 tahun ngajabat
6 laskar dibunuh
6 menteri anyar dilantik
6 SKB menteri ngabubarkeun ormas

1. Imam Besar FPI (Front Pembela Islam) Habib Rizieq Shihab ditahan usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

Habib Rizieq Shihab ditahan sebagai tersangka dalam kasus kerumunan dalam akad nikah putrinya, Syarifah Najwa Shihab, di Petamburan, Jakarta Pusat, 14 November 2020

Rizieq Shihab diperiksa sejak pukul 11.00 Wib dan selesai pukul 22.00 Wib, Sabtu (12/12).

2. Enam anggota laskar FPI yang mengawal Habib Rizieq Shihab meninggal di Tol Cikampek Kilometer 50 (7/12/20).

3. Dengan pertimbangan akhirnya pemerintah memutuskan untuk melarang semua aktivitas Front Pembela Islam (FPI).

Keputusan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Jakarta. (30/12).

4. Pondok pesantren Megamendung, Bogor, Jawa Barat, menjadi perhatian serius lantaran PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) mensomasi untuk menyerahkan kembali tanah tersebut pada negara

PTPN VIII melayangkan surat somasi pada Pondok Pesantren Alam Argokultural miliknya pada Selasa, 22 Desember 2020.

5. Polres Jakarta Pusat dibantu dengan TNI dan warga menurunkan sejumlah baliho dan spanduk Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab di Markas FPI, Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Rabu (30/12/20).

6. Dalam operasi tersebut, polisi juga mengamankan tujuh pemuda dan langsung membawa mereka ke Mapolda Metro Jaya.

Selain itu, tahun ini menjadi periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Republik Indonesia hingga 2024 mendatang. Kebijakan yang paling disoroti pada era kepemimpinan Jokowi tahun 2019, di antaranya soal kenaikan tarif iuran Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur dan program kartu pra kerja. Serta banyak lagi yang lainnya, seperti infrastuktur pembangunan dan lain sebagainya.

Enam laskar Front Pembela islam (FPI) yang meninggal masih dalam penyelidikan, hingga kini belum juga terungkap mengenai hal tersebut.

Kemudian enam menteri Presiden Joko Widodo resmi melantik enam figur calon menteri yang diperkenalkan sebagai menteri Kabinet Indonesia Maju untuk masa jabatan periode tahun 2019-2024. Pelantikan digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 23 Desember 2020 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Keenam menteri yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 133/P Tahun 2020 tentang Pengisian dan Penggantian Beberapa Menteri Negara Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024 tersebut ialah:

1. Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama;
2. Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan;
3. Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial;
4. Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan;
5. Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan;
6. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Selanjutnya Adapun, penghentian kegiatan dan pembubaran ormas FPI ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani enam menteri/kepala lembaga.(30/12/2020).

Mereka yang menandatangani SKB itu adalah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate. Kemudian, Kapolri Jenderal Pol Idham Azis, Jaksa Agung ST Burhanuddin, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafly Amar.

Menurut, MUI Kecamatan Leuwisadeng, berjudul benarkah Ayat Al-Qur’an Berjumlah 6666? Memaparkan MASUKNYA ANGKA 6666 KEDALAM KITAB-KITAB PARA ULAMA SEBAGAI JUMLAH KESELURUHAN AYAT AL-QUR’AN

Melacak Angka 6666 sebagai Jumlah Keseluruhan Ayat Al-Qur’an
Tak mudah melacak angka 6666 dalam kitab-kitab ‘Ulum al-Qur’an. Dari kitab-kitab periode pertama hingga periode al-Itqân awal abad kesepuluh Hijrah, kemudian Manâhil al-‘Irfân abad keempat belas Hijrah, tak temukan satu pun kitab ‘Ulûm al-Qur’ân yang memuat angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an. Angka tertinggi yang penulis temukan adalah angka yang dikutip al-Suyûthi (w. 911 H.) dalam al-Itqân dari Ibnu Abbas, yaitu 6616.1 Apalagi dalam kitab-kitab tentang ‘add al-âyat (menghitung ayat). Menemukannya adalah mustahil.

Demikian pula kitab-kitab tafsir terkenal. Semuanya bersih dari angka 6666.
Penulis tergiring membuka kitab-kitab yang bukan termasuk kategori ‘Ulûm al-Qur’ân, khususnya yang biasa dipelajari di pesantren-pesantren tradisional, mengingat begitu populernya anggka 6666 di Nusantara, di mana pesantren sebagai rujukannya. Penulis memulainya dari meneliti karya-karya Syeikh Nawawi Banten (w. 1316 H.). Angka 6666 penulis temukan dalam salah satu karya monumentalnya tentang Fiqih, yaitu Nihâyah al-Zain.1 Penulis sempat tanyakan kepada beberapa kiyai tentang angka 6666 dalam Al-Qur’an. Kebanyakan tidak mengetahui kitab yang menjadi sumbernya. Tapi sebagian kecil memberitahukan kepada penulis, bahwa angka 6666 terdapat dalam Hâsyiyah al-Shâwi ‘Ala al-Jâlain karya Syaikh Ahmad al-Shâwi (w. 1241 H.). Mereka menyebutnya Tafsir Shâwi. Lalu penulis buktikan dengan merujuknya langsung. Ternyata angka 6666 terdapat di pendahuluannya pada halaman keempat. Tak lama kemudian penulis menemukan angka 6666 dalam sebuah kitab tentang nâsikh dan mansûkh yang berjudul Qalâ’id al-Marjân Fî Bayân al-Nâsikh wa al-Mansûkh Min al-Qur’ân karya Syaikh Mur‘i al-Hanbali (w. 1033 H.). 1 Demikian pula penulis menemukannya dalam kitab Ghidzâ al-’Albâb karya Abu al-‘Aaun al-Safârîni (w. 1188 H.)1 dan Syarah Mukhtashar al-Khalîl karya al-Kharsyi (w.1101 H.).1 Namun dari kelima referensi yang penulis temukan, tak satu pun yang merujuk kepada sebuah hadis atau referensi sebelumnya. Bahkan tidak disebutkan dari siapa-siapanya. Namun yang pasti, penulis melihat angka 6666 yang termuat di dalamnya berapa kutipan.

Dalam Hâsyiyah al-Syilbi ‘Alâ Tabyîn al-Haqâ’iq, penulis menemukan informasi tentang angka 6666, dan Syeikh al-Syalabi (w. 1021 H.) selaku pengarang menyadarkan kutipannya kepada pernyataan Shâhib al-Kasysyâf, yang tak lain adalah al-Zamakhsyari (w. 538 H.).1 Namun sangat disayangkan, al-Syalabi tidak menyebutkan dari kitab al-Zamakhsyari yang mana dikutipnya. Ketika penulis merujuk langsung ke karya-karya al-Zamakhsyari, seperti kitab al-Kasysyâf, al-Fâ’iq, dan Asâs al-Balâghah, penulis tidak menemukannya. Kemudian penulis menemukan informasi dalam Hasyiyah al-Thahthâwi ‘Alâ Marâqi al-Falâh Syarh Nûr al-’Îdhâh, bahwa setelah pengarangnya mengitup angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat, yakni al-Thahthawi (w.1231 H.), menyandarkan angka tersebut kepada seseorang yang bernama al-Sya‘bi dari kitab al-Kasyâf.1 Hal ini terasa aneh karena, dalam al-Kasysyâf yang beredar sekarang, tidak ditemukan angka 6666, sementara nama al-Sya‘bi dalam kutipan al-Thahthawi sebagai pelantara antara dirinya dengan al-Kasysyâf, sulit dibuktikan identitasnya. Yang jelas, bukan al-Sya‘bi yang mufassir, karena al-Sya‘bi Mufassir adalah seorang tabiin yang masa hidupnya jauh sebelum al-Zamakhsyari. Tidak mungkin menjadi pelantara antara al-Zamakhsyari dan al-Thahthawi. Penulis melihat, informasi al-Thahthawi ini hanya akan dapat dibukitan kebenaran atau kekeliruannya dengan menemukan manuskrip al-Kasysyâf yang beredar masa al-Thahtawi, atau paling tidak menemukan informasi tentang sosok al-Sya‘bi yang dimaksud dalam kutipan al-Thahthawi.

Terlepas dari informasi dari al-Syalabi dan al-Thahthawi di atas, penulis menemukan refrensi lain tentang angka 6666, yaitu dalam kitab Nihâyah al-Îjâz karya Rifa‘ah al-Thahthawi (w. 1290 H.), bahwa, angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an dirujuk kepada pernyataan Abu Ishaq al-Tsa‘labi (w. 427 H.).1 Namun, ini pun menjadi sangat aneh, karena, penulis tidak menemukannya dalam karya moneumental al-Tsa‘labi tentang Al-Qur’an, yaitu al-Kasyf wa al-Bayân ‘An Tafsîr al-Qur’ân, atau lazim disebut Tafsir al-Tsa‘labi. Ada yang menggelitik pikiran penulis, jangan-jangan yang dimaksud al-Syalabi dan al-Thahthâwi dengan al-Kasysyâf di atas bukan al-Kasysyâf karya al-Zamakhsyari dan al-Kasyf wa al-Bayân karya al-Ts‘labi. Ini karena, memang, penulis melihat, al-Tsa‘labi adalah mufassir pertama yang mencantumkan jumlah ayat, kata, dan huruf dari setiap surat Al-Qur’an. Meski kenyataannya, di dalam Tafsîr al-Tsa‘labi yang beredar sekarang, tidak ditemukan angka 6666. Penulis berkesimpulan bahwa beredarnya angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an baru terjadi pada paruh pertama abad kesebelas Hijrah, dan memuncak pada abad ketiga belas Hijrah. Hal ini mengingat semua kitab yang penulis temukan memuat informasi tentang angka 6666 bertarikh ke abad-abad tersebut. Yakni tidak ditemukan referesni yang lebih tua dari abad kesebelas. Kendati ada yang merujuk angka tersebut ke al-Kasysyâf dan Imam al-Tsa‘labi di abad kelima Hijrah. Tapi belum dapat dibuktikan kebenarannya. Kitab-kitab yang memuat angka 6666 bukan kitab secara khusus membahas ‘Ulum al-Qur’an atau ‘Add al-Ayât, tapi berkategori umum yang meliputi Fiqih, Tasawuf, Sejarah, Nâsikh Mansûkh, dan hâsyiyah tafsîr. Pertanyaannya kemudian, mengapa pada masa setelah abad kesepuluh Hijrah beredar angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an sedang sebelumnya tidak?

Kemudian Jejak Angka 6666 yang Tidak Menunjuk pada Jumlah Ayat dalam Literatur Islam Klasik
Meski tak ditemukan angka 6666 dalam kitab-kitab para ulama sebelum abad kesebelas Hijrah sebagai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an, tapi tak berarti tidak sama sekali ditemukan angka 6666 dalam kitab-kitab mereka yang menunjuk pada selain jumlah keseluruhan Al-Qur’an. Ibn al-Dahhân (w. 592 H.), dalam Taqwîm al-Naszhr fî Masâ’il Khilâfiyyah Dzâ’i‘ah, menyebutkan angka unik, yaitu angka 6666 bersama 1111, 2222, 3333, 4444, 5555, 7777, 8888, dan 9999. Semuanya merujuk kepada angka India (Hindu) yang kental dengan kandungan mistik. Angka tersebut, pada mulanya tidak ditulis dengan Aljabar, karena tentu Aljabarnya baru ditemukan setelah Peradaban Islam maju, namun dengan Huruf Jumal yang usianya dapat dirujuk ke peradaban Yahudi Kuno, yaitu (غخسو).1 Hingga lima ratus tahun kemudian setelah kitab Taqwîm al-Nazhr ditulis, angka 6666 belum masuk kedalam kitab-kitab para ulama sebagai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an.

Sejarawan Muslim abad kelima Hijrah, Abu Abdillah Al-Bakri (w. 487 H.) dalam al-Masâlik wa al-Mamâlik, ketika menjelaskan jalan dari Madinah menuju Mesir, menyebutkan, bahwa jalur yang ditempuh dari Madinah untuk sampai ke Mesir adalah jalur yang menuju kota Ailah. Dari Ailah, terdapat tanjakan yang tidak bisa didaki kecuali oleh pejalan kaki dan memakan waktu satu hari. Kemudian berjalan sejauh dua marhalah (sekira 127 km) di kawasan bukit Tih, tempat tersesatnya Bani Israil bersama Nabi Musa. Terus berjalan sampai terlihat Laut Faran, yaitu lokasi tenggelamnya Fir’aun. Dari sana ke Laut Merah (Qalzum) sekitar satu marhalah. Dinamakan Laut Faran, karena di pesisir pantainya terdapat kota bangsa Amalik di mana salah satu klannya adalah Faran. Yaitu kota yang dibangun di atas dataran antara dua gunung. Di salah satu lerengnya terdapat sebuah gereja Kristen dan sebuah bentang yang terbuat dari pagar-pagar batu, gapura-gapura, dan pintu-pintu dari besi. Air tawar bening masuk kedalamnnya dari mata air yang diapit pembatas dari tembaga agar tak ada orang yang jatuh. Terus dialirkan melalui pipa yang terbuat dari timah ke kebun-kebun kurma dan pepohan yang mengitari kampung sekitar.

Menurut satu riwayat, di atas mata air tersebut terdapat pohon al-‘Alîq di mana Nabi Musa dahulu melihat api padanya. Dari perkampungan tersebut, yakni dimulai dari pangkal tanjakan (bagian paling bawah perkampungan tersebut) ke kaki bukit Sinai terdapat 6666 anak tangga yang terbuat dari pahatan-pahatan batu. Apabila pendakian sudah melewati anak-anak tangga tersebut, maka akan sampai ke sebuah dataran tinggi yang ditumbuhi pepohonan dan dialiri mata air yang tawar. Di sana terdapat sebuah gereja yang diberimana Elia. Di sana terdapat sebuah lubang yang menurut cerita adalah tempat persembunyai Nabi Elia dari raja Izqil.1 Dengan demikian, angka 6666 sudah dikenal sejak lama oleh Yahudi dan Kristen, paling tidak, yang tinggal di kota Elia (Yerussalem). Setidaknya anak-anak tangga tersebut masih dapat dijumpai orang pada masa al-Bakri.
Angka 6666 muncul, secara unik, dalam karya al-Maqrizi (w. 845 H.), sebagai angka pendapatan Kerajaan Mamluk dari sektor indutsri di Mesir, yaitu sebanyak 6666 dinar emas.1 Ini tak ada hubungannya dengan 6666 di atas. Namun, yang hendak penulis sampaikan, adalah hubungan angka 6666 dengan peradaban purba antara Yahudi dan Hindu yang berlokasi di Mesir, Yerussalem, dan India. Ini pula mungkin yang mempengaruhi Yahudi mensakralkan angka 6 yang menyimbolkan bintang David yang dipakai dalam bendara Israel. Padahal bintang David mestinya disimbolkan dengan angka 7. Ini pula kemudian yang menyebabkan Nasrani menafsirkan angka misterius dalam Bible, Perjanjanjian Baru, pada kitab Wahyu [13 : 18], dengan angka 666 (angka enam tiga digit atau disebut triple six). Padahal angka misterius yang lebih dahulu muncul dalam literarur mereka adalah 6666 (angka enam empat digit).

Analisa Kritis Masuknya Angka 6666 sebagai Jumlah Keseluruhan Ayat Al- Qur’an dalam Kitab-kitab Para Ulama
Keberadaan angka 6666 sebagai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an tidak dapat dibuktikan secara riwayat dan thuruq penghitungan ayat. Tapi, mengingat angka tersebut dikutip dalam kitab-kitab para ulama yang hebat, tak lantas kemudian menyalahkan mereka. Angka 6666 harus ditinjauh dari aspek lain. Tidak mungkin karena salah menghitung.

Meskipun memang sangat berpeluang untuk salah dalam penghitungan. Penulis pernah melakukan riset menghitung ulang jumlah ayat Al-Qur’n dalam Mushaf Kufah yang berjumlah 6236 ayat secara manual bersama para santri Pesantren Tahfizh Al-Mustaqimiyyah Bogor. Penulis memilih beberapa santri, putra dan putri, dan membagi mereka kedalam 17 kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga santri. Rata-rata sudah mempunyai hafalan Al-Qur’an 10 juz, bahkan beberapa sudah hafal seluruhanya.

Penulis mendiktekan jumlah ayat dalam setiap surat yang merujuk pada mushaf standar dan pada hafalan penulis. Lalu penulis memerintahkan mereka menjumlahkan. Hasilnya, dari 17 kelompok tersebut, hanya empat kelompok yang hasil penjumlahannya sama, yaitu 6236 ayat. Semuanya putri. Adapun 13 kelompok lagi, hasil penjumlahannya tidak sama antara satu sama lain. Ini membuktikan mereka keliru, karena tidak mungkin, kalau tidak kebetulan, hasil penghitungan yang salah angkanya sama. Letak kekeliruan mereka berkisar antara penjumlahan, penulisan angka, atau terlewat. Penulis berkesimpulan, munculnya angka-angka keseluruhan ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan riwayat, sangat dimungkinkan pada mulanya terjadi karena salah menghitung.

Al-Zarqani (w.1367 H.) membuat analisa mengapa para sahabat berbeda menetapkan jumlah ayat Al-Qur’an. Menurutnya, Rasulullah saw, pada mulanya, tidak waqaf kecuali pada ujung ayat. Dengan ini, mereka mengetahui batasan-batasa n ayat. Namun pada periode berikutnya, ketika kebanyakan sahabat sudah mengetahui batasan ayat tersebut, kadang Rasulullah Saw membaca washal pada ujung ayat, atau waqaf pada kalimat di pertengahan ayat. Namun sebagian sahabat masih ada yang menganggap setiap waqaf Rasulullah sebagai ujungan ayat dan setiap washal sebagai batang ayat. Lalu jumlah ayat Al-Qur’an pun menjadi berbeda.1 Tapi, meski bisa dikatakan logis, perbedaan yang dihasilkan hanya berkisar pada varian perbedaan yang telah penulis sebutkan di atas. Kecuali, kemudian kalau diandai-andaikan, bahwa bacaan para qari dalam pengajaran mereka kepada murid didengar berbeda pada masa sebelum al-Dâni mengarang kitab al-Bayân. Tapi, ini pun masih sangat jauh terjadi pada angka 6666, mengingat keunikannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here