Amalan Belum Tentu Membawa Kita Kesurga, Yang Hitam Belum Tentu Kotor, dan Yang Putih Belum Tentu Suci

Tangerang – Sorotbangsanews.com – Seyogyanya sifat sombong dan angkuh memang sering kali melekat pada diri manusia yang memiliki kelebihan di atas orang lain. Seperti halnya mempunyai harta sedikit saja, sikapnya bisa berubah menjadi sombong atau takabur luar biasa, memang pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna, yang sempurna hanyalah sang maha pencipta.

“Amalan belum tentu membawa kita kesurga, karena pada dasarnya yang hitam belum tentu kotor, dan yang putih belum tentu suci”

Segala bentuk kebaikan adalah sedekah, tatkala tangan kanan memberi, tangan kiri tak melihat. Seperti halnya padi, yang ‘kian berisi, maka kian merunduk’

Berilah rahmat kepada orang yang membenci hamba, beri mereka hidayah agar mereka kembali pada jalanmu. Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan maka sama pahalanya dengan orang yang melakukannya.

Yang selalu diharapkan orang tua, kita menjadi anak yang sholeh dan tidak meninggalkan shalat, walaupun kita jarang bahkan tidak menjalaninya, maafkan kelalaian kami yaa Rabb.

Jangan berubah hanya karena ingin dicinta jadi dirimu sendiri, dan biarkan seseorang yang tepat menemukan dan mencintaimu apa adanya, karena pada dasarnya orang lain yang akan menilainya.

Sebodoh-bodohnya manusia adalah orang meninggalkan keyakinannya, karena mengikuti sangkaan orang-orang.

Sedangkan pada umumnya, Harta dan jabatan hanya sebuah titipan, tidak pernah mendatangan kebaikan jika diraih dengan cara keburukan, ilmu yang maha kuasa laksana samudera tak bertepi. Bagaikan di atas langit keilmuan seseorang, masih ada langit di atasnya. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui.

“Ada yang berkata bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka ia menjadi tinggi hati (takabur). Kemudian, apabila ia telah menapaki jengkal yang kedua, maka ia pun menjadi rendah hati (tawadhu). Dan bilamana ia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah ia tahu bahwa ternyata ia tidak tahu apa-apa.”

“Rendah hatilah, jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

Mungkin banyak orang pintar di Negeri ini, seperti halnya dari universitas ternama. Lalu apa sih sumbangsihmu bagi negara dan agama? Tak usahlah kau jadi besar kepala, Kalaupun kau sudah menyumbang manfaat bagi sesama, belum tentu itu akan berbuah pahala. Iya, karena tendensimu ternyata tak lebih dari perkara dunia semata, bukan karena ikhlas mencari ridha-nya.

Penulis nasihat yang (katanya) bijak dan disukai. Apa kau berpikir tulisanmu itu paling cemerlang sendiri? Lalu kamu jadi berbangga hati? Merasa sudah jadi penasihat sejati? Amboi, berkacalah diri. jangan-jangan kamu bak lilin yang membakarmu sendiri.

Janganlah sombong wahai jiwa, jangan merasa ‘ujub’ dan riya duhai manusia.

Dengan segala kelebihan yang kau punya. Sejatinya kelebihanmu itu layaknya bak pisau bermata dua, yang dapat menghantarkanmu kesurga, atau menjerumuskanmu kedalam neraka. Ya, karena kelebihanmu itu dapat menjadi karunia yang berbuah pahala, atau bencana yang berujung dosa.

Hidup didunia ini hanya sementara, sedangkan apa yang mesti kita banggakan atau sombongkan dalam hidup ini, sedangkan hidup yang hakiki berada dialam barzah. (Zoe Pelantun Kopi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here