Rindu dan Luka Suara Anak Bangsa Kian Merintih, Lihatlah Ibu Pertiwi

Sorotbangsanews.com – Bagaikan cahaya sukma membungkus butiran asa. Lembayung senja membentuk siluet wajahmu.

Meratap perih hati terhunus pisau belati.
Kiasan awan gelap menyelimuti kidung indahku.

Gemericik air hujan bernyanyi mengiringi langkah ku.
Adakah rindu ini untuk mu.

Nyala mu tak membara
Hanya pelengkap saat yang ada dab tiada. Terang mu terlihat fatamorgana
Hanya sesaat memberi makna

Tetapi tanpa mu terang hanyalah imitasi
Keindahan menjadi tautan rindu, yang selalu manyayat tegarnya hati.

Tetaplah menjadi sang pemberi
Meski jiwa raga terkikis mati.

Aku layaknya bayi dari segala tangis, kau kah air susu itu. Aku luka dari segala perih, kau obat mujarab itu, aku tanya dari segala jawab, kau seperti teka teki itu. Aku laut dari segala ombak, kau rahasia maha dalam itu.

Dalam ombak waktu, kau segalanya bagiku. Dalam rahasiamu, aku segala tak bagimu.

Tatkala termenung ku disini
Di lembayung senja ini
Mengenang jasa jasamu di lubuk sanubari.

Ibu yang sangat kucintai
Tiada tergantikan dihati.
Ku patri erat dalam derap langkah ini
Menyongsong esok hari.

Dedaunan begitu rindang
Dengan warna yang begitu hijau.
Sungguh sedah saat dipandang
Rumah bagi para burung berkicau.

Hutanku sebuah kekayaan
Pelindung bagi seluruh kehidupan.
Tempat margasatwa flora fauna
Tumbuh dengan bergembira.
Semoga hutanku tetap lestari.

Ada keraguan dibalik tindakan
Ada duka dibalik keinginan
Ada cerita dibalik muka
Detakan jantung bagaikan nuklir.
Dibawanya pada suatu akhir
Menari-nari didalam fikir
Terjatuh sambil berzikir.
Datang bagai kilat
Mencoba untuk ku sirat
Sebelum tiada sekat
Ku sebut menjelang impian.

Hidup bagai asap putih
Melayang dan pergi
Kesementaraan yang sia sia.
Namun ada bakti yang berharga
Mengingat orang tua
Tak ternilai harganya

Tengok sekarang
Bukan nanti.
Perhatian penuh
Bukan setengah hati.

Melangkah pulang
Sambut orang tua dalam pelukan.

Hari ini hingga senja tenggelam warna jingganya, aku masih menunggumu dan mengigil tanpa angin.

Tanpa suara hanya hati yang berbicara, ku ingin memberitahunya, namun tak sanggup jika hati teraniaya dengan jawabannya.

Senja ku harap kau bisa sampaikan semua keinginku.

Malam yang senyap menyergap terbunuh sepi.

Di langit bulan purnama timbul tenggelam. Dingin menggigil jiwa tatkala belumuran air hujan.

Tak gentar meski tulang berasa linu Tuan Puan mengetukkan palu!
Begundal bersorak seperti layaknya memancing di air keruh. (Netizen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here