Tangis Pilu Wajah Ibu Pertiwi, Rintihan Regenerasi Anak Negeri

Hembusan angin malam terasa mencekam
Menyelimuti diri hingga ke tulang belulang
Seakan menusuk denyut nadi yang tak bertulang
Memanjakan bang opit seperti di anak emaskan

Wara Wiri gono gini terkesan terhempas bagaikan pulau tak berpenghuni
Buah semangka menjadi saksi bisu tatkala rakyat seperti dibungkam
Bulan pun tertutup awan bintang-bintang menyinari bumi

Akang juruh mengepal gumpalan asap yang tak terhingga
Hiruk pikuk tangisan yang mungkin tak terlupakan
Betapa pedihnya nafas terasa sesak menghirup gumpalan asap
Tangis pilu menyertai wajah ibu pertiwi

Berbagai musibah melanda dipenjuru negeri
Entah apa yang sedang terjadi
Hanya yang maha kuasa yang maha mengetahui
Miris mendengar rintihan regenerasi anak negeri
Seperti tak beruang namun menanggung beban utang yang mendalam

Menyebrangi laut untuk berlayar menaungi samudera nan luas
Hempasan gelombang tak luput menerjang kapal saat berlayar
Ribuan karang dilautan semoga kapal tak terbentur karang
Abk seakan sibuk mencari terumbu karang
Nahkoda kapal tertegun dalam diam walau kapal sepertinya oleng diterjang badai

Ikan-ikan dilautan terhempas gelombang nyaris tak terdengar
Hamparan pasir berkilauan layaknya logam permata seperti intan
Para nelayan berpegang tiang seakan-akan bingung mencari ikan
Seperti tak ada bahu untuk bersandar makan dua pisang mungkin cukup untuk mengeyangkan