Prawita GENPPARI Beri Sumbang Saran Agro Wisata Tembakau di Majalengka

Majalengka – Sorotbangsanews.com – Tembakau menjadi salah satu kebutuhan sebagian masyarakat dunia, meskipun tentu ada sebagian lagi masyarakat yang tidak menyukai tembakau. Hal terbukti dari adanya sebagian masyarakat yang tidak merokok. Dalam konteks ini, maka wajar jika ada pengrajin yang bertani tembakau karena pasarnya memang terbuka luas. Bukan hanya masyarakat Indonesia saja, tetapi juga masyarakat dunia. Bagi Prawita GENPPARI, hal tersebut jangan hanya dipandang sebagai sebuah produk saja, tetapi juga turut memikirkan agar hal tersebut juga bisa didesain menjadi agro wisata pertanian tembakau. Ini penting agar petani mendapatkan nilai tambah sehingga diharapkan kehidupan mereka bisa lebih baik lagi“, ungkap Ketua Umum Prawita GENPPARI ketika dimintai keterangan disela-sela kunjungannya ke pusat pertanian tembakau di Majalengka, Sabtu (3/10).

Masalah rokok ini memang unik sekali, karena kendati di setiap bungkusnya jelas–jelas tertulis sebuah peringatan keras bahwa “merokok bisa membunuhmu”, tapi faktanya para peminat rokok tidak berkurang. Jika kita berbicara rokok, maka otomatis bicara soal tembakaunya itu sendiri. Apalagi produk petani tembakau ini, hasilnya pun banyak diserap oleh beberapa pabrik rokok. Oleh karenanya Tim Prawita GENPPARI datang untuk mendengar berbagai masukan yang diperlukan sehingga tahu sumbang saran apa yang kira–kira bisa diberikan,” Ujar Dede menambahkan.

Jika melihat luas area pertanian tembakau nampaknya semakin meluas, itu menandakan bahwa pasar atau permintaan tembakau semakin meningkat, dan petaninya pun semakin bertambah. Luas areal pertanian tembakau ini tersebar di beberapa desa, dan diharapkan membawa dampak yang signifikan untuk menaikan kesejahteraan petani tembakau ini.

Adapun salah satu masalah yang dihadapi oleh petani tembakau saat ini adalah masalah ketidakpastian musim, karena ada pergeseran musim penghujan dan musim kemarau. Ketidakpastian musim ini akan berdampak pada sulitnya petani untuk menentukan awal musim tanam. Belum lagi kalau musim kemarau, pertumbuhan tembakau juga agak lambat karena kurangnya sumber air buat menyiraminya. Jika harus menyedot air pakai mesin pompa, tentu menjadi “biaya tersendiri” bagi petani. Ditambah lagi dengan fluktuasi harga jual ketika petani menanam sedikit harga jualnya mahal dan ketika panen banyak harganya murah. Terakhir masalah petani adalah akses permodalan.

“Melalui kunjungan dan seresahan kali ini, mudah–mudahan petani tembakau bisa mempertimbangkan sumbang saran yang kami sampaikan. Semua disampaikan semata–mata untuk kemajuan dan kesejahteraan petani“, pungkas Dede mengakhiri keterangan. (Opik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here