Mata Najwa: Berebut Tahta di Tengah Wabah Pandemi Covid-19

Sorotbangsanews.com – Selamat malam selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. #MataNajwaBerebutTakhtadiTengahWabah

Saran menunda pilkada tak hanya soal kesehatan, pilkada saat pandemi bikin mutunya jadi rentan. (30/9)

Partisipasi berpotensi rendah, pengawasan akan melemah, perdebatan juga bisa tak terarah. Belum problem-problem akut pemilu yang masih berlaku, termasuk problem dana kampanye yang gelap melulu.

Akan seperti apa pilkada di tengah puncak pandemi, bisakah berharap para pemenang berkualitas tinggi?

Inilah Mata Najwa, Berebut Takhta di Tengah Wabah.

Pilkada serentak 2020 tetap digelar di tengah pandemi. Tak hanya persoalan kesehatan, sejumlah nama kontestan pun jadi sorotan. Di antaranya ada anak dan menantu Presiden Joko Widodo.

Sudah terhubung dengan Mata Najwa, Calon Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, dan Calon Wali Kota Medan, Bobby Nasution.

“Tidak ada yang berubah, niat saya masih sama. Dulu jadi pengusaha niatnya agar bermanfaat bagi orang banyak. Sekarang masuk politk juga sama, bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi,” kata Gibran Rakabuming.

“Nggak ada perintah (dari bapak). Ini murni niat saya sendiri. Tidak ada dorongan. Dua tahun lalu, kan saya sudah bilang saya tertarik (politik). Makanya saya maju (pilkada),” papar Gibran Rakabuming.

“Karena saya sudah merasa siap sekarang,” lanjut Gibran ketika ditanya mengapa maju pilkada tanpa menunggu Jokowi selesai menjabat Presiden.

“Semua proses sudah saya lalui, semua persyaratan sudah saya penuhi, jadi ya tidak ada tahapan-tahapan yang saya lompati. Apa yang dimudahkan?” tutur Gibran Rakabuming.

“Kalau rekomendasi itu hanya dari ibu ketua umum. Yaitu keputusannya dari ibu ketua umum,” ulas Gibran membantah soal keistimewaannya maju dalam Pilkada Solo.

“Ketika awal 2020 sampai sebelum rekomendasi turun, elektabilitas saya sudah melebihi Pak Achmad Purnomo. Ini ada prosesnya,” tambah Gibran Rakabuming.

“Insyaallah saya akan sampai selesai, (kalau nanti) menjabat Wali Kota Solo. Pilkada belum mulai, masa sudah mikirin jadi gubernur. Kita fokus yang ada sekarang aja,” terang Gibran Rakabuming.

Ditempat terpisah, Kota Medan saya lihat stagnan dari pembangunan SDM dan fisik (infrastruktur), makanya saya putuskan maju dalam pemilihan wali kota,” ujar Bobby Nasution.

“Kebetulan (saja) saya bareng (Gibran) karena pilkadanya serentak,” lanjut Bobby Nasution.

“Di keluarga, kami enggak dikekang. Mau jadi pengusaha, jadi politisi, dibebaskan. Ya saya cerita ke orang tua, ke mertua,” papar Bobby Nasution.

“Kita lihat dari kebutuhan kota. Di Medan sendiri butuh lonjakan yang luar biasa. Ini butuh suatu gebrakan, sebuah gerakan luar biasa untuk membangun kota ini,” urai Bobby Nasution.

“Pilkada ini kan suatu sistem, ada regulasinya, ada UU, ada penyelenggara, ada pengawas, ada parpol. Saya kira kita harus percaya pada sistem ini bisa bekerja dengan baik,” tambah Gibran Rakabuming.

“Kita ajak masyarakat dan media mengawal proses (pilkada) ini,” tutur Gibran Rakabuming.

Siapa yang berani menantang anak presiden di kontestasi Pilkada Surakarta? Ini dia penantangnya yang sudah terhubung juga dengan Mata Najwa, Bagyo Wahyono.

“Saya belum pernah ketemu (Gibran). Saya enggak berani, saya sadar bahwa kita orang kecil. Selama ini kita pengen mendobrak, karena sekarang kan yang jadi pemimpin orang-orang berduit, sekolah tinggi,” keluh Bagyo Wahyono.

“Kita sudah punya program, masyarakat sudah cerdas, yang namanya Bajo dengan settingan saya rasa terlalu naif,” papar Bagyo Wahyono.

“Kita kan punya massa seluruh Indonesia, mereka tahu kondisi sebenarnya Bajo,” ungkap Bagyo Wahyono.

“Kita ada jalur-jalur sosial kita punya saudara seluruh indonesia untuk berkontribusi melalui iuran dana dan gotong royong,” lanjut Bagyo Wahyono.

“Saya orang biasa, saya tidak punya kapasitas menilai diri saya, bagaimana saya dipilih saya juga bertanya-tanya kan masih banyak orang yang cerdas selain saya,” tutur Bagyo Wahyono.

“Waktu kampanye tinggal sedikit, kita lagi di masa pandemi. Kita harus kedepankan protokol kesehatan. Dalam 2 bulan ke depan akan banyak kegiatan daring untuk kurangi kerumunan warga,” terang Gibran Rakabuming.

“Saya berkomitmen untuk menaati protokol kesehatan. Setiap hari saya dengungkan ke warga program prioritas saya dan Pak Teguh adalah percepatan pemulihan pascacovid,” kata Gibran Rakabuming.

“Papan, sandang, pangan. Dan selama ini Kota Solo sudah hilang kebudayaannya,” sambung Bagyo Wahyono soal apa prioritas program kerjanya.

“Saya ini kan sudah biasa mengelola perusahaan dan yang saya kelola lebih dari satu(perusahaan). Saya sudah biasa memanage banyak orang dan saya rasa saya mampu memimpin Kota Solo,” ulas Gibran Rakabuming.

“APBD Kota Solo tiap hari kita bahas dengan Pak Teguh, ini adalah masa-masa di mana kita harus bersabar dan banyak sekali anggaran dipotong dan difokuskan untuk penanganan COVID-19,” tutur Gibran Rakabuming.

“Setelah vaksin diproduksi, kita ingin mendampingi UMKM supaya bisa menggerakkan ekonomi. Oktober nanti Solo tuan rumah Piala Dunia U-20, jadi titik balik kita dari pandemi,” papar Gibran Rakabuming.

“Kalau yang namanya etika itu subyektif, yang jelas semua proses yang sudah saya lalu dan tidak melanggar aturan,” sambung Gibran Rakabuming.

“Nothing to lose, kalau menang ya enggak apa-apa dan kalau kalah saya kembali jadi pengusaha. Mau coblos saya boleh, mau coblos Pak Bagyo silakan. Ini demokrasi jadi enggak ada pemaksaan,” jelas Gibran Rakabuming.

“Pilkadanya ditunda saya siap, saya kembalikan ke KPU. Saya tahu ini di tengah pandemi. Setelah saya dapat nomor urut maka saya kurangi blusukan. Saya buat inovasi blusukan online utuk menjaga warga solo tetap sehat,” lanjut Gibran Rakabuming.

“Kami ini kan peserta. Yang memutuskan lanjut atau tidak bukan kandidat tapi KPU. Kami sebagai kandidat ikut saja. Kalau ditunda ya kami pasti mengikuti peraturan itu. Kandiat harus siap,” sambung Bobby Nasution.

Perebutan takhta daerah yang juga menarik perhatian publik, terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Petahana Akhyar Nasution menjadi penantang menantu presiden.

“Saya sempat singgung soal anggaran di Kota Medan. Apakah masyarakat dapat informasi soal anggaran? 98% menjawab tidak tahu soal anggaran Kota Medan,” kata Bobby Nasution.

“(Anggaran) itu semua bisa diakses. Kita punya web pemerintah, APBD dibuka. Semua informasi terbuka. Saya kapanpun bisa ditanya. Tidak ada yang tertutup dan semua melalui online system,” lanjut Akhyar Nasution.

Kita juga sudah terhubung dengan Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanudin Muhtadi.

“Jauh lebih menarik di Medan ketimbang di Solo. Di Solo, secara elektoral PDIP sangat dominan di sana. Di Medan, tidak ada partai yang dominan. Ada dua calon yang menarik karena merepresentasikan basis kekuatan lama,” sambung Burhan Muhtadi.

“Penting untuk Bobby untuk mengangkat isu-isu lama di Medan, isu-isu yang terkait dengan petahana,” kata Burhan Muhtadi.

Masa kampanye sudah memasuki hari ke-5. Bagaimana pelaksanaan kampanye di tengah masa pandemi ini? Sudah terhubung juga dengan Mata Najwa, anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar, dan anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini.

“Ada beberapa kejadian, pada masa pendaftaran memang banyak paslon yang membawa massa lebih dari seharusnya,” kata Fritz Siregar.

“Pada hari pertama kampanye saya berkoordinasi dengan Bawaslu Kota Medan apakah ada pertemuan yang melebihi 50 orang sebagaimana yang diperintahkan PKPU,” papar Fritz Siregar.

“Calon cenderung membiarkan karena takut dianggap sombong padahal komitmen protokol kesehatan itu soal nyawa dan kesehatan masyarakat,” ujar Titi Anggraini.

“Saya tidak melanggar (protokol kesehatan) tapi saya ada situ dan Bawaslu ada di situ. Sampai sekarang saya gak dapat teguran, saya enggak tahu,” tutur Akhyar Nasution.

“Penanganan covid regulasinya kenapa semua dilempar di paslon. Paslon berjuang untuk menang pilkada. Pilkada adalah sarana kompetisi untuk melahirkan calon kepala daerah,” lanjut Akhyar Nasution.

“Yang terjadi di Medan, saya rasa soal protokol kesehatan dari pemkot belum aktif. Jadi kami paslon selain kampanye, juga sekalian jadi motor penggerak mensosialisasikan protokol kesehatan,” sambung Bobby Nasution.

“Hari pertama, paslon masih sedikit ada kelabakan karena masyarakat belum banyak disentuh protokol kesehatan,” kata Bobby Nasution.

Tiga trah politik berebut takhta di Kota Tangerang Selatan. Ada anak wakil presiden, keponakan menteri, dan kerabat Ratu Atut.

Sudah terhubung dengan Mata Najwa, Siti Nur Azizah Ma’ruf, Rahayu Saraswati, dan Pilar Saga Ichsan.

“Saya sebagai kandidat tentu mengikuti apa yang sudah diputuskan KPU,” kata Pilar Saga Ichsan menjawab soal apakah sikap pendukungnya terbelah mengenai lanjut tidaknya Pilkada di Tangsel.

“Pilkada ini, setiap paslon pasti punya kepentingan dan opini masing-masing. Tapi pilkada ini akan dilaksanakan di 270 daerah yang sedang mengalami COVID-19 dengan konteks yang beda,” kata Rahayu Saraswati.

“Kita di Tangsel tidak bisa memaksakan kehendak untuk disamakan dengan wilayah-wilayah lain. Jadi kami sebagai paslon harus menyerahkan ini pemerintah pusat dan DPR RI,” papar Rahayu Saraswati.

“Kami sampaikan ke masyarakat, ini adalah bagian dari kesepakatan dari para penyelenggara pemilu yang sudah sepakat ini harus tetap untuk menyelamatkan demokrasi di Indonesia,” tutur Siti Nur Azizah Ma’ruf.

Selain itu Kami juga bisa memahami, kami sebagai paslon harus siap jika (pilkada) ini harus tetap berlangsung, kita tetap harus mengikuti protokol kesehatan dan mengutamakan kesehatan masyarakat,” terang Siti Nur Azizah Ma’ruf.

“Jika Pilkada ditunda, maka untuk mengisinya dibutuhkan pelaksaan tugas (Plt). Namun seberapa besar keputusan atau kebijakan yang dapat diambil oleh Plt?” ulas Rahayu Saraswati.

“Pada dasarnya dinasti politik telah menjadi normalitas baru. Yang berhak menentukan mana yang paling kuat dari trah ini adalah warga Tangsel sendiri,” sambung Burhan Muhtadi.

“Kalau di Medan dan di daerah lain, itu kan persoalan betapa sulitnya pansel dalam mendefinisikan protokol kesehatan. Kalau pandemi menuntut sikap stay at home, kalau pilkada menuntut sikap aktif,” lanjut Burhan Muhtadi.

“Basic pendidikan sebagai arsitek, saya punya gagasan tata kota ke depan. Saya dididik sejak kecil punya atmosfer di dunia politik jadi banyak inspirasi keluarga besar saya yang membawa saya ke pengabdian masyarakat,” dilanjuti Pilar Saga Ichsan.

“Sosok saya adalah sosok seorang ibu. Tentu intuisi keibuan saya bisa menjadi sebuah cara untuk saya jadi bagian solusi Tangsel supaya lebih baik,” sambung Siti Nur Azizah Ma’ruf.

“Saya seorang ibu dan perempuan dan saya punya background di birokrat hampir 20 tahun,” ujar Siti Nur Azizah Ma’ruf.

“Daripada kita bicara perbandingan dari segi karakter seharusnya kita lihat dari visi misi. Kami fokus memberikan pemerintahan yang akuntabel dan bergotong royong. Kami juga fokus penanganan COVID-19,” papar Rahayu Saraswati.

“Tren saat ini masyarakat banyak yang belum memahami bahaya covid dan ini akan jadi PR ke depannya termasuk infrastruktur dan pendidikan,” ulas Rahayu Saraswati.

“Banyak cara bagi pemilih untuk mendapat visi misi calon. Memang tidak mudah. Ada negara-negara yang menunda dan tetap melaksanakan pemilu,” lanjut Burhan Muhtadi.

“Yang tetap melaksanakan itu mereka melaksanakan test, trace, treat. Indonesia ini nekat pilkada tetap dilakukan,” terang Burhan Muhtadi.

“Kemungkinan (pilkada ini) minimnya partisipasi. Hasil survei Indikator Politik, 63% orang meminta penundaan pilkada, ini sumber golput,” ujar Burhan Muhtadi.

“Lalu potensi meledaknya politik uang. Ini situasi pandemi, ekonomi warga juga terhimpit,” ulas Burhan Muhtadi.

Lebih lanjut, Lalu keuntungan yang didapatkan petahana. Mereka bisa menang karena modal popularitas karena keterbatasan gerak kampanye saat ini,” papar Burhan Muhtadi.

“Saya harap warga tetap memberikan coblosan, tapi sebaiknya pemerintah juga mempermudah warga untuk tetap memilih tanpa mengorbankan kesehatan mereka,” kata Burhan Muhtadi.

Catatan Najwa, Berebut Takhta di Tengah Wabah.

1. Pemilu dalam demokrasi tidak pernah tidak penting, hajat rakyat dipertaruhkan niscaya urusan genting.

2. Bahwa skeptisisme atas proses elektoral masih terjadi, tak membatalkan fakta vitalnya para pejabat negeri.

3. Masalahnya pandemi kian menyulitkan pemilih kritis, ruang menguji visi misi kandidat semakin terkikis.

4. Kandidat dan pemilih masih banyak yang belum terbiasa, menjalani kampanye lewat perangkat dunia maya.

5. Akibatnya kampanye di ruang terbuka masih jadi andalan, hore-hore yang jelas bisa membahayakan kesehatan.

6. Kesehatan publik dan mutu demokrasi jadi pertaruhan, risiko ganda yang sekarang menjadi sulit dihindarkan.

7. Semoga kita dijauhkan dari klaster covid pilkada, mari memilah dan memilih sembari tetap waspada. (Pelantun Kopi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here