Terungkap Hubungan Khusus Pangkostrad Dudung dengan Ketum PDIP Megawati

Sorotbangsanews.com – Akademisi Rocky Gerung turut menanggapi hilangnya diorama Penumpasan G30S PKI di Museum Kostrad yang belakangan ramai menyusul pernyataan dari Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Ia mengatakan hilangnya diorama Penumpasan G30S PKI bernuansa politis.

“Mungkin sekali nanti itu juga akan dikembalikan diorama itu kalau Pak Dudung bukan lagi Kasad Pangkostrad. Karena orang lihat ‘Lho kok di zaman Pak Dudung itu dihilangkan?’ Mungkin kita lihat Pak Dudung dekat sekali dengan PDIP, nanti kalau ada Pangkostrad baru yang tidak dekat dengan PDIP, dia akan pulihkan lagi,” kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official, Senin, 27 September 2021.

Benarkah Letjen Dudung Abdurrachman dekat dengan PDIP?

Pada Mei 2021, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memutasi 80 perwira tinggi TNI. Salah satunya adalah Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman.

Mayjen Dudung Abdurachman dipromosikan menjadi Panglima Kostrad.

Pengamat militer Aris Santoso punya prediksi di balik mutasi Mayjen Dudung Abdurachman dari Pangdam Jaya menjadi Pangkostrad. Dilansir suara.com (27/5/2021), Aris Santoso memperkirakan ada skenario di balik mutasi tersebut.

“Yang paling penting ini, Pak Dudung meramaikan nominasi untuk KSAD berikutnya,” ujar Aris Santoso. Diketahui jabatan KSAD saat ini dipegang Jenderal Andika Perkasa.

Menurut Aris, promosi Mayjen Dudung Abdurachman menjadi bintang tiga dipercepat dengan asumsi KSAD sekarang Jenderal Andika akan menjadi Panglima TNI.

“Artinya akan disiapkan untuk pengganti (Jenderal Andika Perkasa sebagai KSAD). Salah satunya adalah Pak Dudung ini,” papar Aris Santoso.

Sebagai pengamat TNI, Aris Santoso sendiri mengaku agak luput mengikuti jejak karier Dudung Abdurachman. Dalam bayangan Aris, promosi Dudung ini sedikit politis karena dipercepat.

Menurut Aris Santoso ada empat calon KSAD. Yaitu Kasum TNI Letjen Eko Margiyono, Pangkostrad Dudung Abdurachman, Pangdam Kasuari Mayjen Nyoman Cantiasa dan Pangdam Udayana Mayjen Maruli Simanjuntak.

Bagi Aris Santoso, tiga nama selain Dudung sudah lama dikenal publik. Sementara Dudung tiba-tiba muncul. “Pak Dudung ini sebagai kuda hitam sebagai calon KSAD,” ujar Aris.

Menurut Aris Santoso, dalam membaca calon KSAD atau calon Panglima TNI biasanya perlu mencari hubungannya dengan kekuasaan.

“Kalau sudah pangkat jenderal itu, kategori profesionalisme, portofolio, kemampuan sudah lewat semua. Itu dianggap sudah setara semua tinggal gimana nasib dia,” ujar Aris Santoso.

Aris Santoso melihat akselerasi karier Mayjen Dudung Abdurachman karena punya link di Istana. Menurut Aris, Dudung adalah menantu Kholid Ghozali.

“Kholid Ghozali ini adalah jenderal purnawirawan Akmil 65 yang kebetulan adalah sahabat baik Pak Taufik Kiemas waktu zaman remaja di Palembang,” terang Aris.

“Artinya apa? Artinya Pak Dudung ini sudah masuk di radarnya Mbak Mega, Ketua Umum PDIP,” ujar dia lagi.

Begitu juga dengan Letjen Eko Margiyono yang pernah menjadi Komandan Paspampres.Menurut Aris, nama Eko sudah masuk radar Presiden Jokowi.

Begitu juga dengan Mayjen Maruli Simanjuntak yang merupakan menantu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

“Pak Nyoman Cantiasa ini yang masih murni. Saya tidak menemukan link dengan kekuasaan. Beliau pemegang Adhi Makayasa,” kata Aris.

Menurutnya, pemegang Adhi Makayasa ini punya poin ketika zaman SBY. Karena SBY pemegang Adhi Makayasa menjadikan benchmark yang menjadi KSAD atau Panglima TNi pemegang Adhi Makayasa.

“Pemegang Adhi Makayasa punya peluang meski tidak punya link dengan Istana,” tuturnya.

Namun untuk siapa yang menjadi KSAD, menurut Aris, itu hak proregatif Istana. Idealnya kata dia, seorang KSAD adalah jenderal berprestasi bagus dan punya back up dari Istana.

“Eko Margiyono ideal. Pernah jadi Danjen Kopassus, pernah jadi Pangdam Jaya, pernah Pangkostrad, nama dia sudah masuk radar Pak Jokowi. Tapi bukan berarti Pak Eko yang jadi. Masih ada tarik menarik di kalangan elit terutama yang mengendorse mereka,” jelas Aris.

Aris memprediksi ada tiga nama yang berpeluang besar menjadi KSAD yaitu Eko, Dudung dan Nyoman. Untuk Maruli Simanjuntak, Aris memperkirakan akan dijadikan KSAD periode berikutnya karena masih terlalu muda. (Sumber: gelora.co)